Ada Unsur Religi di Kesuksesan Bisnis Bus PO Haryanto

PO Haryanto

Kesuksesan Haryanto dalam bisnis bus tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Mungkin kebanyakan orang menyangka jika berbisnis transportasi khususnya bus, cukup modal yang besar saja untuk membeli armada. Akan tetapi bisnis bus tidak bisa modal saja, ini yang dialami Haryanto ketika membangun bisnis bus PO Haryanto.

Bus adalah transportasi massal yang sangat diminati banyak orang dari segala kalangan. Dengan menggunakan bus, kebutuhan akomodasi dari satu tempat ke tempat lain bisa terjangkau. Apalagi tarif bus juga tidak terlalu mahal, intinya sesuai dengan jarak tempuhnya.

Sayangnya transportasi bus ini kadang sering ugal-ugalan di jalan. Nyalip kendaraan lain dengan sembarangan, dan tak jarang membuat kecelakaan. Hal seperti ini biasanya diakibatkan oleh kejar setoran. Para sopir saling berebutan jalan untuk mendapatkan yang terdepan dan berharap bisa sampai di tujuan tepat waktu.

Yang seperti ini jelas sangat membahayakan penumpang, bahkan bus pun kadang tidak mempedulikan siapa penumpangnya. Bus paling berhenti di SPBU atau Rest Area saja.

Nah, Haryanto ini berbeda dalam mengelola jasa transportasinya ini. Jika umumnya bus-bus tidak pernah berhenti di masjid atau mushola ketika waktu sholat tiba, bus PO Haryanto ini selalu berhenti di masjid ketika adzan sudah tiba.

Haryanto memberlakukan aturan ini bukan untuk nama dirinya, tapi untuk memberikan kesempatan bagi penumpangnya untuk menjalankan ibadah tepat waktu. Bahkan apabila ada karyawannya yang tidak memberikan kesempatan kepada para penumpang untuk beribadah, maka karyawan tersebut akan diberikan sanksi.

Adapun sanksi yang diberikan adalah tidak akan menerima upah untuk perjalanan tersebut.

Bisnis Bus PO Haryanto

Mantan pensiunan TNI ini menyadari bahwa berbisnis itu bukan soal modal saja. Tapi dirinya sadar bahwa setiap bisnis dan usaha apapun itu pasti ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Untuk itu, ia sangat serius dalam hal memberikan kesempatan beribadah bagi penumpangnya ini untuk berhenti setiap sholat lima waktu tiba.

Kesempatan beribadah ini tidak hanya untuk para penumpangnya saja, di dalam manajemennya, Haryanto juga mempunyai program untuk memberangkatkan haji karyawannya. Tidak semua karyawan, tapi karyawan yang memiliki kepatuhan dan rajin dalam beribadah yang akan ia berangkatkan ke tanah suci.

Bukan bermaksud untuk memamerkan diri, Haryanto pun juga rutin menyantuni anak yatim piatu binaannya di Majelis Santunan Yatim Piatu.

Haryanto sangat yakin kesuksesannya isi berkat Allah SWT, dari modal awal yang hanya Rp 1 juta untuk beli angkot pertamanya di tahun 82, kini ia sudah memiliki lebih dari 80 bus eksekutif dan 150 angkutan umum.

Ini bisa dijadikan inspirasi untuk kita semua, bahwasannya untuk mencapai keberhasilan dalam berbisnis itu tidak sekadar berada jumlah modal, dan bagaimana caranya. Tetapi tentang bagaimana kita bisa menyeimbangkan antara usaha dan ibadah kepada-Nya. Sehingga kesuksesan yang didapatkan adalah kesuksesan yang benar-benar membawa keberkahan di dunia maupun di akhirat nanti. Aamiiin.

Baca juga:



Ada pertanyaan? Silahkan tulis di kolom komentar!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *