Home » INSPIRASI » Winshor, Brand Sepatu Lokal yang Dirintis oleh Seorang Anak IT

Winshor, Brand Sepatu Lokal yang Dirintis oleh Seorang Anak IT

Winshor Sepatu Formal Pria

Berbisnis itu merupakan pekerjaan yang tidak memandang latar belakang. Mau dulunya hanya lulusan SD, atau kuliah di universitas ternama, setiap orang berhak untuk sukses dalam berbisnis. Seperti yang dialami oleh Steven Suwignyo, Owner Winshor, salah satu brand sepatu lokal yang sekarang fokus dengan produk sepatu formal dan kasual untuk pria.

Seperti yang kami katakan tadi, bahwa berbisnis itu tidak memandang latar belakangnya. Steven itu dulunya malah lulusan Universitas Bina Nusantara Sarjana 1. Dia memiliki background di bidang IT, ya dia anak IT. Tapi jangan salah, dia pun pernah bekerja juga sebagai web designer di sebuah perusahaan.

Dulunya Steven kalau siang hari bekerja untuk perusahaannya, sedang kalau malam ia mengerjakan pekerjaan freelance yang diterimanya. Kondisi seperti ini sempat dijalaninya selama 2 tahun.

Dari pekerjaannya itulah ia mengumpulkan modal untuk memulai bisnis sepatu ini. Dan pada akhirnya di tahun 2016 terciptalah nama “Winshor” ini.

Dari hobi melihat sepatu

Steven punya alasan tersendiri mengapa ia memilih mendirikan usaha sepatu handmade pria ini. Saat kami mintai keterangan, ia mengatakan jika yang melatarbelakangi bisnis ini adalah karena hobi melihat. Ya, Steven memang hobi melihat, tetapi melihat sepatu.

Dulu ketika ia masih kuliah di Jakarta, sering sekali mengunjungi toko sepatu untuk melihat koleksi sepatu terbaru. Ia merasa senang melihat koleksi model-model sepatu terkini dan melihat sepatu apa yang dikenakan orang di sekitarnya. Itu salah satu yang membuatnya suka mengapa memilih usaha ini.

Tetapi alasan lain yang cukup berpengaruh adalah datang dari pengalamannya sendiri. Steven sering melihat bahkan mengalami sendiri jika sepatu yang dikenakannya tidak awet (kokoh). Dari desain modelnya sih bagus, tetapi tidak bisa bertahan lama. Dari situlah ia tergerak untuk membuat sepatu sendiri yang benar-benar tidak hanya punya model bagus tetapi juga awet dan kokoh saat dikenakan.

Komentar Lucu tapi Menyakitkan dari Konsumen

Sebenarnya Steven pun pernah gagal. Sebelum ia mendirikan usaha sepatu dengan brand Winshor, ia sudah pernah berbisnis sepatu dengan nama brand lain. Sayangnya, dengan modal Rp 4 juta yang berasal dari tabungannya, bisnis sepatunya tersebut gagal. Hal ini dikarenakan kualitas sepatunya masih kurang bagus. Sepatu yang diproduksinya pertama kali kurang kokoh, sehingga banyak komentar dari para konsumennya.

Ada cerita unik yang masih diingat Steven dari komentar salah satu konsumennya. Waktu itu ada konsumen yang mengatakan kepadanya.

Mas, sepatunya yang saya beli kemarin itu sol nya ketinggalan di belakang ketika berjalan di kondangan, alias copot.

Lucu memang, tetapi itu dijadikannya pelajaran berharga untuk membuat sepatu yang lebih kuat lagi.

Dan akhirnya hingga saat ini produk sepatu handmade nya “Winshor” sudah banyak konsumennya. Ia sudah tidak lagi mendapatkan komentar buruk dari produk sepatunya ini. Dari kualitasnya sendiri semuanya menggunakan bahan dari lokal, termasuk kulit sapinya.

Ia mengatakan jika produk Winshor nya ini memang sengaja diciptakan untuk memiliki daya tahan yang kokoh. Sehingga tidak ada lagi kejadian seperti yang dialami dulu.

Nama “Winshor” sendiri ternyata memiliki makna bagi Steven. Dari penjelasannya kepada EtalaseBisnis, Winshor sendiri berasal dari 3 kata, yaitu win + shoe + r®. Win berapa dari Bahasa Inggris yang berarti kemenangan atau suatu hasil yang bagus. Shoe artinya sepatu. Dan R berasal dari kata registered yang artinya kepemilikan. Winshor berarti sepatu yang memiliki kualitas yang bagus dan terdepan dibandingkan dengan sepatu lainnya.

Media Online Berpengaruh untuk Pemasaran

Dari segi pemasaran, Steven tetap menggunakan pemasaran offline dan online. Dari segi offline ia selain bekerja sama dengan rekannya yang memiliki store distro yang berada di Jl. Tebet Utara 1 No.40F Jakarta Selatan untuk digunakan berjualan, juga mendistribusikan produknya ke toko-toko. Sedangkan dari segi online ia menggunakan marketplace, media sosial dan website untuk memasarkan produknya.

Menurutnya penggunaan media online atau internet di era sekarang ini sangatlah berpengaruh. Sekarang ini banyak orang yang membeli barang dengan mencarinya di internet dulu. Ada yang langsung berbelanja lewat online atau nantinya baru datang ke toko untuk membelinya. Steven tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

Meski begitu, Steven tetap saja masih memiliki tantangan dalam mengembangkan bisnis ini. Dia menyadari kalau memulai itu adalah sesuatu yang mudah, tetapi untuk mempertahankan dan membuat bisnis ini menjadi lebih besar dan dikenal orang, itu yang jadi tantangan utama.

Tidak Sekadar Asal Jadi

Kalau soal produk, Steven berkeinginan untuk membuat sepatu handmade untuk wanita. Mengingat untuk saat ini dia hanya fokus untuk sepatu formal dan kasual bagi pria.

Winshor art

Bagi calon konsumennya yang tertarik dengan produk sepatunya, Steven secara tegas akan menjelaskan bagaimana produk sepatunya ini kepada para calon konsumen. Steven akan menjelaskan apa saja kelebihan dari sepatunya ini hingga proses produksinya yang tidak sekadar ‘asal jadi’. Prosesnya sangat panjang dan harus melewati Quality Check terlebih dulu untuk memastikan produknya siap dijual.

Hingga saat ini Steven dibantu oleh pegawainya yang berjumlah 20 orang. Itu semua diawali dengan kerja keras dan ketekunan. Tentu ini menjadi pelajaran yang berharga untuk kita semua bahwa untuk menciptakan produk yang terbaik harus melewati banyak tantangan.

Produk sepatu Winshor sendiri bisa dilihat di beberapa channel medianya seperti :

Kami sendiri sudah melihat dan mencoba salah satu produk sepatu formalnya. Dan ini benar-benar produk lokal yang berkualitas. Produk-produk seperti inilah yang perlu kita jaga dan dukung agar industri sepatu lokal kian berkembang.

Kami berharap pembaca EtalaseBisnis juga selalu mendukung produk-produk lokal, yaitu dengan membeli dan menggunakannya. Karena sebenarnya banyak produk lokal yang kualitasnya sangat bagus, seperti dari Winshor ini. Namun karena tidak ada dukungan dari masyarakat, alhasil mereka menjadi tumbang. Sayang jika produk lokal harus seperti ini.

Tetapi Winshor dengan produk unggulnya ini akan selalu bisa berkembang dan diterima masyarakat Indonesia. Syukur-syukur bisa bersaing dengan produk luar dan bisa go internasional.

Semoga informasi ini dapat memberikan inspirasi untuk kita semua.

Bagikan artikel ini :


Ada pertanyaan? Silahkan tulis di kolom komentar!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *