Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

CEO Tokopedia, William Tanuwijaya Ternyata Bukan Orang yang Bergaji Tinggi di Perusahaannya

William Tanuwijaya - Narasi TV

Banyak orang beranggapan kalau seorang CEO (Chief Executive Officer) atau Founder sebuah perusahaan itu adalah orang yang memiliki gaji paling tinggi. Faktanya tidak semuanya begitu. Ini terjadi di perusahaan startup Tokopedia. Di mana CEO nya, William Tanuwijaya bukanlah orang yang menarik gaji paling tinggi di perusahaannya.

Pengakuan ini diutarakan sendiri oleh William dalam acara Catatan Najwa yang diunggah di channel YouTube Najwa Shihab. Dalam video yang berjudul “Catatan Najwa Part 1 – Dari Kampung Jadi Miliuner (Cerita CEO Tokopedia & CEO Bukalapak” tersebut juga hadir CEO Bukalapak, Achmad Zaky.

Di awal-awal video, yang ditanya adalah William Tanuwijaya. Beliau ditanya oleh Najwa Shihab terkait gaji CEO Tokopedia. Ada yang menarik saat William menjelaskannya.

Sejak awal di bangunnya Tokopedia atau ketika Tokopedia masih awal-awal berjalan, William memiliki gaji Rp 3 juta saja per bulan. Itu ketika Tokopedia masih baru. Nah ketika Najwa Shihab kembali menanyakan hal sama namun di kondisi Tokopedia saat ini yang sudah berkembang besar, William pun dengan PD nya mengatakan kalau ia bukan orang yang menarik gaji paling tinggi.

“Ehm, tetep bukan orang yang menarik gaji paling tinggi di perusahaan,” jawab William.

Jawaban itu tentu sangat mengagetkan, secara William adalah CEO dan Founder Tokopedia, tapi kok gajinya bukan yang tertinggi?

Ternyata dari penjelasannya gaji rekan di tim nya justru yang paling tinggi. William menganggap masih banyak orang (di dalam Tim nya) yang lebih pintar darinya sehingga layak untuk memiliki gaji lebih tinggi.

Ini menandakan bahwa dalam hal menggaji seseorang, William sangat fokus pada kualitas skill orang tersebut. Bukan berdasarkan lama bekerja atau level jabatannya. Buktinya saja William yang sebagai CEO bukan yang tertinggi.

Budaya seperti ini sangat layak untuk dicontoh. Karena dengan seperti ini orang akan lebih termovitasi untuk meningkatkan skill dibanding meningkatkan jabatan. Mudahnya begini, orang yang ingin meningkatkan skill berarti ia harus belajar sungguh-sungguh, akhirnya ia bisa ahli di bidangnya. Caranya hanya satu belajar dan ini dampaknya positif.

Tapi kalau orang mengejar jabatan, akan banyak sekali cara ‘asal-asalan’ yang digunakan agar supaya bisa punya jabatan tinggi. Caranya bisa negatif bisa positif. Fakta di lapangan sudah banyak. Karena ingin mengejar jabatan tinggi, akhirnya ada oknum yang menyuap atasannya ada yang menggunakan cara yang tidak jujur dan lain hal.

Sehingga itu akan berdampak buruk untuk perusahaan.

Baca juga:



Ada pertanyaan? Silahkan tulis di kolom komentar!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *