Home » INSPIRASI » Ini Dia Brand Lokal Asli Indonesia Yang Tidak Anda Sangka
100 Cinta Indonesia

Ini Dia Brand Lokal Asli Indonesia Yang Tidak Anda Sangka

Sebagai masyarakat Indonesia, tentu kita harus mencintai produk lokal. Bentuk mencintainya pasti dengan menggunakan produk atau jasa tersebut. Sehingga produk lokal tersebut tetap bisa berkembang di negeri sendiri.

Lalu bagaimana mengetahui sebuah produk itu merupakan karya anak negeri? Salah satu yang sering digunakan acuan banyak orang adalah dengan melihat brand nya.

Tapi, melihat brand suatu produk tidak bisa indikator pasti. Karena ada produk luar yang ternyata brand-nya Indonesia banget, begitu juga sebaliknya banyak yang tidak menyangka bahwa brand lokal disangkanya brand luar.

Contohnya saja beberapa brand berikut ini. Anda pasti menyangka kalau beberapa diantaranya adalah brand luar, padahal sebenarnya brand lokal asli Indonesia.

J.Co

J.CO

Anda sering nongkrong di J.CO? Kalau iya, saya harap Anda tidak menyangka kalau ini brand luar. Yah, J.Co Donut & Coffee adalah brand lokal yang didirikan oleh Johnny Andrean. Secara konsep dan menu yang ada, sekilas seperti ala-ala Amerika. Dan disitulah banyak yang terjebak kalau J.Co adalah produk Amerika.

Wajar jika seperti itu, karena ketika membangun J.Co, Johnny dulunya memang suka travelling ke Amerika Serikat dan mencoba berbagai donat khas Amerika. Dari situ muncul inspirasi untuk membangun sebuah bisnis donat khas Amerika di Indonesia.

Anda perlu tahu, bahwa proses pengembangan J.Co Donut & Coffee ini memakan waktu kurang lebih 3 tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka gerai pertamanya. Dalam waktu 3 tahun ini, Johnny melakukan riset dan segala macam hal yang dibutuhkan sebelum akhirnya membuka outlet.

Jika Anda melihat logo J.Co, di situ ada simbol merak dan merak identik dengan Indonesia 🙂

HokBen

HokBen

Banyak yang mengira Hoka Hoka Bento adalah brand dari Jepang. Pasti Anda juga 🙂 Tapi, mari dilihat dulu sejarahnya. HokBen ini awal mula didirikan pada 18 April 1985 oleh Hendra Arifin di bawah PT. Eka Bogainti. Lagi-lagi munculnya HokBen ini terinspirasi dari luar negeri.

Di mana Hendra Arifin dulu tertarik untuk mengembangkan restoran siap saja ala Jepang. Melihat peluang emas dan kebetulan di Indonesia pada tahun tersebut belum ada restoran macam ini, akhirnya beliau melakukan study banding ke Jepang dan pada akhirnya membeli ijin untuk menggunakan merek serta asistensi teknis Hoka Hoka Bento di Indonesia.

Di Jepang sendiri, Hoka Hoka Bento hanya berupa bisnis makanan dengan konsep Pesan-Ambil (Bawa Pulang).

Dan syukurnya, saat ini hak cipta merek Hoka Hoka Bento telah dimiliki sepenuhnya oleh PT Eka Bogainti. Dan bisnis seperti ini di Jepang sudah tutup.

Restoran HokBen yang pertama kali adalah di Kebon Kacang, Jakarta. Hingga pada tahun 1990 akhirnya HokBen membuka cabang yang pertama yakni di Bandung.

Meski restoran ini ala-ala Jepang, tapi menu yang disajikan sangat Indonesia banget. 🙂

Sophie Martin Paris

Sophie Martin

Anda pasti menyangka kalau Sophie Martin adalah produk dari Paris, Perancis. Padahal tidak, ini brand asli Indonesia. Kok pakai Paris? Baca dulu deh sejarahnya. 🙂

Jadi Sophie Martin ini adalah perusahaan & merek busana asal Indonesia yang didirikan pada 1995 di Jakarta. Bidang bisnis yang dijalankan adalah distribusi pakaian, aksesori, dan kosmetik.

Awal mula munculnya Sophie Martin adalah dari usaha awal yang dilakukan pendirinya, yakni Bruno Hasson, seorang ekspatriat asal Perancis. Dulu Bruno memiliki usaha pembuatan tas rumahan dan seiring perjalanan waktu ternyata produk tasnya sangat mendapat sambutan baik.

Lantas ia mulai merekrut karyawan, sewa kantor, merubah sistem penjualan hingga akhirnya munculah brand Sophie Martin.

Dari awal perusahaan ini memang memiliki brand “Sophie Martin”, tapi pada 2008 akhirnya menggunakan brand “Sophie Paris” yang berfungsi untuk strategi pemasaran saja. 🙂 Tapi Shopie Martin tetap masih ada dan hanya menjadi merek yang memayungi merek-merek dibawahnya.

Berkat sistem penjualan langsung dan sistem pemasaran berjenjang (MLM), kini produk Sophie Martin tersebar tidak hanya di Indonesia tetapi juga luar negeri.

Lea Jeans

Lea Jeans

Merek yang satu ini juga banyak mengecoh masyarakat Indonesia. Dikiranya Lea Jeans adalah merek asal Amerika, padahal ini adalah produksi dan merek asli Indonesia. Hanya saja, pihak perusahaan memang sengaja ingin menciptakan image Amerika di produk denimnya ini. Karena pemikiran masyarakat masih menyangka kalau Amerika adalah pemilik produk denim terbaik.

Lea Jeans sendiri sudah berdiri sejak 1972. Namun, status legalnya baru didapatkan pada 1976. Lea Jeans berdiri di bawah naungan PT Lea Sanent. Uniknya nama Lea diambil dari nama kakak sang direktur, Leo Sandjaja.

Awal mula perusahaan ini hanyalah perusahaan garmen biasa dan baru masuk ke Denim mulai 1978.

Piero

Piero

Merek sepatu yang satu ini memang seperti pemain sepak bola. Tapi bukan berarti merek ini dari luar negeri.

Adalah Djimanto, pria asal Jogjakarta yang memiliki ide untuk membangun sepatu merek Piero ini. Tapi, meski saat ini Sepatu Piero dikenal hingga manca negara, dulu ketika mendirikan sangat berat tantangannya.

Jadi awal kisah Djimanto pada kondisi era krisis monetor, yang mana banyak perusahaan bangkrut dan masuk ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) karena perusahaan menunggak uang BLBI.

Pada waktu itu, ada perusahaan sepatu “Star Moon” yang juga menjadi sitaan BPPN. Karena alasan tidak ingin industri sepatu turut bangkrut, akhirnya Djimanto berusaha untuk membeli perusahaan itu.

Dalam kondisi ekonomi yang belum stabil, 3.000 karyawannya menjadi beban, karena order turun drastis. Disela-sela rapat direksi, Djimanto menginginkan agar perusahaannya ini tidak bangkrut dan selalu bisa “urip“.

“Sing penting urip pabrik, karena 3.000 karyawan bakal kesusahan kalau nggak urip,” kata Djimanto.

Mendengar Djimanto mengucap kata “urip” terus menerus, sang direktur pun memberikan ide agar sepatunya diberi merek “Urip”. Tapi, karena merek “Urip” kurang menjual, akhirnya diputuskan untuk dibalik dan pada akhirnya ditambahi satu huruf menjadi “Piero“.

***

Nah, itu beberapa brand lokal yang dikira brand import dan kita tidak menyangkanya. Sebenarnya masih banyak lagi brand-brand lokal memiliki image luar negeri, seperti The Executive, Excelso, CFC, Eiger, Edward Forrer, dan masih banyak lagi. 🙂

Ada pertanyaan? Silahkan tulis di kolom komentar!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × 5 =